Jumat, 18 Maret 2011

Penyakit polio

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).
Polio adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit peradaban. Polio menular melalui kontak antarmanusia. Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus.

2.2 Etiologi
Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus dibawa aliran darah. Penyebab penyakit polio terdiri atas tiga strain yaitu strain 1 (brunhilde) strain 2 (lanzig), dan strain 3 (Leon). Strain 1 adalah yang paling paralitogenik atau yang paling ganas dan sering kali menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah.
Patofisiologi
Virus polio masuk melalui mulut dan hidung, berkembangbiak di dalam tenggorokkan dan saluran pencernaan, diserap dan disebarkan melalui system pembuluh darah dan pembuluh getah bening Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).

2.4 Manifestasi klinis
Terdapat 3 pola dasar pada infeksi polio
1) Infeksi subklinis ( tanpa gejala atau berlangsung kurang dari 72 jam )
Demam ringan
Sakit kepala
Tidak enak badan
Nyeri tenggoriokkan
Tenggorokkan tampak memerah
Muntah
2) Non paralitik ( gejala berlangsung 1-2 minggu)
Demam sedang
Kaku kuduk
Muntah
Diare
Kelelahan yang luar biasa
Rewel
Nyeri atau kaku punggung, lengan , tungkai dan perut
Ruam kulit atau luka dikulit yang terasa nyeri
Kekakuan otot
3) Paralitik
Demam timbul 5-7 hari sebelum gejala lainnya
Sakit kepala
Kaku kuduk dan punggung
Kelemahan otot asimetrik
Onsetnya cepat
Segera berkembang
Lokasinya tergantung pada bagian korda spinalis yang terkena
Peka terhadap sentuhan
Sulit untuk memulai proses berkemih
Sembelit
Perut kembung
Gangguan menelan
Nyeri dan kejang otot

2.5 Mekanisme penyebaran
Virus ditularkan infeksi droplet dari oral-faring (mulut dan tenggorokan) atau tinja penderita infeksi. Penularan terutama terjadi langsung dari manusia ke manusia melalui fekal-oral (dari tinja ke mulut) atau yang agak jarang melalui oral-oral (dari mulut ke mulut). Fekal-oral berarti minuman atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita masuk ke mulut manusia sehat lainnya. Sementara itu, oral-oral adalah penyebaran dari air liur penderita yang masuk ke mulut manusia sehat lainnya.
Virus polio sangat tahan terhadap alkohol dan lisol, namun peka terhadap formaldehide dan larutan chlor. Suhu tinggi cepat mematikan virus, tetapi pada keadaan beku dapat bertahan bertahun-tahun.
Ketahanan virus di tanah dan air sangat bergantung pada kelembapan suhu dan mikroba lainnya. Virus itu dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan hingga berkilo-kilometer dari sumber penularan.
Meski penularan terutama akibat tercemarnya lingkungan oleh virus polio dari penderita yang infeksius, virus itu hidup di lingkungan terbatas. Salah satu inang atau mahluk hidup perantara yang dapat dibuktikan hingga saat ini adalah manusia.

2.6 Jenis – Jenis Polio
Penyakit Polio terbagi atas tiga jenis yaitu Polio non-paralisis, Polio paralisis spinal, dan Polio bulbar.
-Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh.
-Polio Paralisis Spinal Jenis Strainpoliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki. Setelah poliovirus menyerang usus, virus ini akan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus dan diangkut seluruh tubuh. Poliovirus menyerang saraf tulang belakang dan neuron motor -- yang mengontrol gerak fisik. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun, pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak. Infeksi ini akan mempengaruhi sistem saraf pusat menyebar sepanjang serabut saraf. Seiring dengan berkembang biaknya virus dalam sistem saraf pusat, virus akan menghancurkan neuron motor. Neuron motor tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas -- kondisi ini disebut acute flaccid paralysis(AFP). Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat menye-babkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada toraks (dada) dan abdomen (perut), disebut quadriplegia.
-Polio Bulbar Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung neuron motor yang mengatur pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai otot yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbgai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar dapat menyebabkan kematian. Lima hingga sepuluh persen penderta yang menderita polio bulbar akan meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Kematian biasanya terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf kranial yang bertugas mengirim ''perintah bernapas'' ke paru-paru. Penderita juga dapat meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan; korban dapat ''tenggelam'' dalam sekresinya sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru. Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita telah menggunakan ''paru-paru besi'' (iron lung). Alat ini membantu paru-paru yang lemah dengan cara menambah dan mengurangi tekanan udara di dalam tabung. Kalau tekanan udara ditambah, paru-paru akan mengempis, kalau tekanan udara dikurangi, paru-paru akan mengembang. Dengan demikian udara terpompa keluar masuk paru-paru. Infeksi yang jauh lebih parah pada otak dapat menyebabkan koma dan kematian.
2.7 waktu dan Cara pemberian
1. Cara Pemberian
a. Oral Polio Vaccine (OPV)
Jenis vaksin Virus Polio Oral atau Oral Polio Vaccine (OPV) ini paling sering dipakai di Indonesia. Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan melalui mulut. Tiap dosis sebanyak dua tetes mengandung virus tipe 1, tipe 2, dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin.
Virus dalam vaksin ini setelah diberikan dua tetes akan menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun dalam dinding luar lapisan usus yang mengakibatkan pertahan lokal terhadap virus polio liar yang akan masuk. Virus polio ini dapat bertahan di tinja hingga enam minggu setelah pemberian vaksin melalui mulut. Anak yang telah mendapatkan imunisasi OPV dapat memberikan pengeluaran virus vaksin selama enam minggu dan akan melakukan infeksi pada kontak yang belum diimunisasi. Untuk orang yang berhubungan (kontak) dengan bayi yang baru diimunisasi harus menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi.
Vaksin ini sangat stabil, namun sekali dibuka akan kehilangan potensi karena perubahan pH setelah terpapar udara. Kebijakan Departemen Kesehatan menganjurkan bahwa vaksin polio yang telah dibuka botolnya pada akhir sesi imunisasi massal harus dibuang.
Vaksin OPV dapat disimpan beku. Apabila akan digunakan vaksin beku tersebut dapat dicairkan dengan cepat, dengan ditempatkan antara dua telapak tangan dan digulir-gulirkan, dijaga agar warna tidak berubah yaitu merah muda sampai oranye muda sebagai indikatoir pH.

b. Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV)
Di Indonesia, meskipun sudah tersedia tetapi Vaksin Polio Inactivated atau Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV) belum banyak digunakan. IPV dihasilkan dengan cara membiakkan virus dalam media pembiakkan, kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan pemanasan atau bahan kimia.
. Pemberian vaksin tersebut dengan cara suntikan subkutan dengan dosis 0,5 ml diberikan dalam empat kali berturut-turut dalam jarak dua bulan.
Untuk orang yang mempunyai kontraindikasi atau tidak diperbolehkan mendapatkan OPV maka dapat menggunakan IPV. Demikian pula bila ada seorang kontak yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah maka bayi dianjurkan untuk menggunakan IPV.
2. Rekomendasi Waktu Pemberian
a. Imunisasi primer bayi dan anak
1) Vaksin polio diberikan pada bayi baru lahir sebagi dosis awal, sesuai dengan PPI dan ERAPO tahun 2000. Kemudian diteruskan dengan imunisasi dasar mulai umur 2-3 bulan yang diberikan tiga dosis terpisah yang berturut-turut dengan interval waktu 6-8 minggu. Satu dosis sebanyak dua tetes (0,1 ml) diberikan per oral pada umur 2-3 bulan dapat diberikan bersam-sam waktunya dengan suntikan vaksin DPT. Bila OPV yang diberikan dimuntahkan dalam waktu 10 menit, maka dosis tersebut perlu diulang
2) Anak yang telah mendapatkan imunisasi OPV dapat memberikan pengeluaran virus vaksin selama enam minggu dan akan melakukan infeksi pada kontak yang belum diimunisasi. Untuk orang yang berhubungan (kontak) dengan bayi yang baru diimunisasi harus menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi.
3) Pemberian air susu ibu tidak berpengaruh pada respon antibody terhadap OPV dan imunisasi tidak boleh ditunda karena hal ini. Anak-anak dengan imunosupresi dan kontak mereka yang dekat harus diimunisasi dengan IPV
b. Vaksin terhadap orang tua yang anaknya divaksinasi
Anggota keluarga yang belum pernah divaksinasi atau belum lengkap vaksinasinya dan mendapat kontak anak-anak yang mendapat vaksinasi OPV, harus ditawarkan vaksinasi dasar OPV pada waktu yang bersamaan dengan anak tersebut. Kepada orang dewasaa yang telah mendapat imunisasi sebelumnya tidak perlu mendapakan vaksinasi penguat (Booster). Interval minimal antara dua dosis vaksinasi dapat diperpanjang dan dapat menyelesaikan vaksinasinya tanpa mengulang lagi.
c. Imunisasi penguat (booster)
Dosis penguat OPV harus diberikan sebelum masuk sekolah, yaitu bersamaan pada saat dosis DPT diberikan sebagai penguat; dosis OPV berikutnya harus diberikan pada umur 15-19 tahun atau sebelum meninggalkan sekolah.
d. Imunisasi Polio untuk orang dewasa
Untuk orang dewasa, sebagai imunisasi primer (dasar) dianjurkan diberikan tiga dosis berturut-turut dua tetes OPV dengan jarak 4-8 minggu. Semua orang dewasa sebaiknya divaksinasi terhadap poliomyelitis dan tidak boleh ada yang tertinggal. Dosis penguat untuk orang dewasa tidak diperlukan, kecuali mereka yang dalam resiko khusus, misalnya :
1) Bepergian ke daerah-daerah yang poliomyelitis masih endemis atau saat terjadi epidemi
2) Petugas-petugas kesehatan yang kemungkinan mendapat kontak dengan kasus poliomyelitis.
3) Bagi mereka yang secara terus-menerus mengalami resiko infeksi, dianjurkan diberikan dosis tunggal sebagai penguat dua tetes setiap 10 tahun.
4) Vaksinasi untuk anak imunokompromais
Untuk mereka yang vaksin virus hidup merupakan kontra indikasi, misalnya mereka dengan imunosupresi dari sesuatu penyakit atau kemoterapi, maka IPV dapat digunakan sebagai vaksinasi terhadap poliomyelitis. Hal ini dapat juga dipakai untuk saudara-saudara anak imunokompromais dan anggota keluarga yang mendapat kontak. Sebagai vaksinasi dasar, diberikan suntikan IPV sebanyak 3 dosis masing-masing 0,5 ml, secara SC dalam atau IM dengan interval 2 bulan. Dosis penguat harus diberikan yang jadwalnya sama dengan pemberian OPV. Naka dengan HIV-positif dan anggota keluarga serumah yang mendapat kontak harus menerima IPV.

2.8 Efek Samping
Pada umumnya reaksi terhadap vaksin dapat berupa efek samping (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Efek samping vaksin antara lain berupa efek farmakologi, efek samping, interaksi obat, intoleransi, reaksi idiosinkrasi dan reaksi alergi. Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi karena kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi vaksin, kesalahan prosedur, teknik pelaksanaan dan faktor kebetulan.
Kejadian ikutan pascaimunisasi adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi. Kejadian ikutan pascaimunisasi polio memang jarang ditemukan. Setelah pemberian vaksinasi OPV sebagian kecil penerima akan mengalami gejala pusing-pusing, diare ringan dan sakit pada otot. Lebih jarang lagi, diperkirakan setiap 2,5 dosis OPV yang diberikan dapat mengalami kasus Paralitik Poliomielitis (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis atau VAPP). VAPP merupakan kejadian lumpuh layu akut (AFP) 4 – 40 hari setelah diberikan vaksin OPV dengan sekuele neurologis susulan yang mirip dengan polio setelah 60 hari. Sementara itu, kasus VAPP kontak terjadi ketika virus yang berasal dari vaksin OPV (VDPV) diekskresikan dan menyebar kepada anak-anak yang tidak diimunisasi atau anak-anak yang belum menerima OPV secara lengkap.
Kejadian ikutan pada janin belum pernah dilaporkan, namun OPV jangan diberikan pada ibu hamil empat bulan pertama kecuali terdapat alasan mendesak misalnya bepergian ke daerah endemis poliomielitis. Vaksin polio oral dapat diberikan bersama-sama dengan vaksin inactivated dan virus hidup lainnya, tetapi tidak boleh diberikan bersama vaksin tifoid oral. Bila BCG diberikan pada bayi, tidak perlu memperlambat pemberian OPV, karena OPV memacu imunitas lokal dan pembentukan antibodi dengan cara replikasi dalam usus.
Di dalam vaksin polio OPV dan IPV mengandung sejumlah kecil antibiotik (neomisin, polimisin, streptomisin) namun hal ini tidak merupakan kontra indikasi kecuali pada anak yang mempunyai bakat hipersensitif yang berlebihan. Pascaimunisasi pada pemberian OPV sebaiknya secara cermat memperhatikan indikasi kontra penggunaan vaksin tersebut.

2.9 . Kontra Indikasi
Kontra Indikasi pemberian OPV adalah sebagai berikut :
a. Penyakit akut atau demam (suhu > 38.5oC), vaksinasi harus ditunda
b. Muntah atau diare
c. Sedang dalam pengobatan kortikosteroid atau imunosupresif yang diberikan oral maupun suntikan, juga yang mendapat pengobatan radiasi umum (termasuk kontak dengan pasien)
d. Keganasan yang berhhubungan dengan system retikuloendotelial




DAFTAR PUSTAKA


Price, Wilson. 1995. Patofisiologi: Kosep Klinis dan Proses-proses penyakit. Jakarta : EGC

Watson, Roger. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. Jakarta: EGC

0 komentar:

Posting Komentar