Jumat, 18 Maret 2011

askep urolitiasis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Uroltiasis adalah adanya batu ginjal pada saluran perkemihan yang bersifat ideoapatik, dapat menimbulkan statis dan insfeksi
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem perkemihan yaitu Urolitiasis.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan:
a. Definisi penyakit Urolitiasis
b. Etiologi penyakit Urolitiasis
c. Manifestasiklinis penyakit Urolitiasis
d. Patofisiologi penyakit Urolitiasis
e. Pemeriksaan diagnostic penyakit Urolitiasis
f. Penatalaksanaan penyakit Urolitiasis
g. Asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan Urolitiasis








BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Urolitiasis

1. Definisi
Urolitiasis adalah adanya batu pada saluran kemih yang bersifat ideoaptik, dapat menimbulkan statis dan infeksi.
Macam-macam batu menurut tempatnya:
Batu ginjal adalah batu yang berbentuk di ginjal dapat menetap pada beberapa tempat di bagian ginjal. Seperti di kalix minor atas dan bawah, di kalix mayor, di daerah pyelum dan di atas (up junction).
a. Batu di kalix minor atas
Batu ini kemungkunan silent stone dengan symptom stone.
b. Batu di kalix minor bawah
Batu yang terdapat di bagian ini biasanya merupakan batu koral (staghorn stone) dan berbentuk seperti arsitektur dari kalices. Batu ini semakin lama akan bertambah besar dan mendesak pharencim ginjal semakin menipis. Jadi, batu ini potensi berbahaya bagi ginjal.
c. Batu di kalix mayor
Jenis batu ini adalah batu koral, tetapi tidak menyumbat batu pada daerah ini sering tidak menimbulkan gejala akut, tetapi sering di temukan terjadinya pielonefritis karena infeksi yang berulang-ulang.
d. Batu di pyelum ginjal
Kadang-kadang dapat menyumbat dan menimbulkan infeksi sehingga dapat menyebabkan kolik pain.

2. Etiologi
Masih belum dapatdi pastikan kemungkinan adanya, namun secara umum penyebab dari penyakit ini adalah sebagai berikut:
a. Faktor infeksi, dimana penyebab tersering darai infeksi ini adalah adanya Escherichia coli.
b. Peningkatan vitamin D.
c. Kekurangan minum atau dehidrasi.
d. Hyperparathiroidisme, penyakit metabolic bawaan.
e. Faktor lingkungan yang secara umum berasal dari faktor sumber pemer olehan air minum.
f. Tirah garing yang lama.

3. Manifestasi Klinik
Adanya batu pada traktus urinarius tergantung pada adanya abstruksi dan infeksi. Ketika batu menghambat aliran urine maka menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi pada ginjal serta ureter. Infeksi yang disertai demam menggigil, terjadi karena iritasi yang terus-menerus. Bila nyeri mendadak menjadi akut disertai nyeri tekan di seluruh area kosto vertebral dan muncul mual dan muntah, maka pasien sedang mengalami kolik renal.
Diare dan ketidaknyamanan abnormal terjadi karena reflex renointestinsl ginjal ke lambung dan usus besar. Batu yang terjebak di kandung kemih menyebabkan gejala iritasi. Jika batu menyebabkan obstruksialiran menyebabkan retansio urin.

4. Patofisiologi
Urolitiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius. Batu terbentuk ketika konsentrasi supstansi seperti kalsium, oksalat, kalsium fostat dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika difisiensi supstrats tertentu. Seperti sitrat yang secara normal mencegah kristalisasi dalam urine, serta status cairan pasien.
Infeksi, statis urine, serta drainase renal yang terlambat dan perubahan metabolic kalsium, hiperparatiroid, malignasi, penyakit granulo matosa (sarko kaldosis, tuberculosis) masukan vitamin D berlebih merupakan penyebab dari hiperkalsemia dan mendasari pembentukan batu kalsium. Batu urinarius dapat terjadi pada inflamasi usus ato ileostomi.

5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Laboratorium
1) Urine analisis, volume darah, berat jenis urine, protein, reduksi dan sediment.
2) Urine kultur meliputi : mikroorganisme, sensitivity test.
3) Darah yang meliputi : leuco, diff, LED, kadar ureum dan kreatinin, kadar urine acid, kadar cholesterol, GTT, UCT.
b. Rontgen Foto
BNO / Guik neir overzicht = CVB (ginjal, ureter, buli-buli
) = plain foto abdomen. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui : batu dalam saluran kemih, tulang-tulang ileo spoas lining, dan contour ginjal.

6. Penatalaksanaan
a. Famakoterapi
1) Natriumbikarbonat
2) Asam aksorbal
3) Diuretic tiasid
4) Alloporinol
b. Pengangkatan batu melalui pembedahan
1) Pielolitotomi
2) Uretolitotomi
3) Sistolitotomi
4) Litheripsi ultrasonic

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Aktivitas / istirahat
Subyektif : keterbatasan aktifitas / imobilisasi berhubunagn dengan kondisi sebelumnya (contoh : penyakit tidak sembuh, cedera medulla spinalis).
b. Sirkulasi
Obyektif :
1) Peningkatan tekanan darah / nadi.
2) Kulit hangat dan kemerahan, pucat.
c. Eliminasi
Subyektif :
1) Riwayat ISK kronik, obstruksi sebelumnya (kalkulus).
2) Penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh.
3) Rasa terbakar, dorong kemih.
4) Diare.
Obyektif :
1) Oliguria
2) Hematuria
3) Piuria
4) Perubahan pola berkemih
d. Makanan / cairan
Subyektif :
1) Mual / muntah, nyeri tekan abdomen
2) Diet tinggi purin, kalsium oksalat dan fosfat
3) Ketidakcukupan pemasukan cairan
Obyektif :
1) Distensi abdomen
2) Penurunan / tidak adanya bising usus
3) Muntah
e. Nyeri/ kenyamanan
Subyektif :
1) Episode akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung pada lokasi bat, contohnya pada panggul, abdomen, dan turun ke lipat paha / genetalia. Nyeri dangkal konstan menunjukan kalkulus ada di pelvis atau kalkulus ginjal.
2) Nyeri dapat digambarkan sebagai akut, hebat tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain.
f. Keamanan
Subyektif :
1) Penggunaan alcohol
2) Demam, menggigil

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi ureteral dan trauma jaringan, pembentukan edema, ischemia seluler.
b. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.
c. Gangguan thermoregulasi berhubungan dengan proses infeksi.
d. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan dengan proses penyakit.
e. Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan mual / muntah (nausea) dan diueresis obstruksi.
f. Infeksi berhubungan dengan pembentukan batu pada traktus urunarius.

3. Intervensi Keperawatan
a. Gangguan nyaman nyeri
Kemungkinan berhubungan dengan :
1) Peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi ureteral
2) Trauma jaringan, pembentukan edema, ischemia seluler
Tujuan :
Nyeri hilang dengan spasme terkontrol.
Kriteria evaluasi :
Tampak rileks, mampu beristirahat dengan tepat.
Intervensi keperawatan :
1) Kaji skala nyeri dan lokasi.
Rasional :
Membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus.
2) Beri tindakan massage seperti tindakan pinggang (relaksasi dan distraksi)
Rasional :
Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot.
3) Bantu ambulasi sering dan tingkatkan pemasukan cairan
Rasional :
Hidrasi kuat meningkatkan lewatnya batu dan membantu mencegah pembentukan batu selanjutnya.
4) Beri kompres hangat pada punggung
Rasional :
Menghilangkan tegangan otot dan menurunkan reflex spasme.
5) Kolaborasi pemberian obat narkotik, reflex spasme dan edema jaringan
Rasional :
Untuk membantu gerakan batu.
b. Perubanha eliminasi urine
Kemungkinan berhubungan dengan :
1) Stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureter
2) Obstruksi mekanik, inflamasi
Tujuan :
Berkemih dengan jumlah yang normal dan biasa
Intervensi keperawatan :
1) Observasi intake dan output cairan serta karakteristik urine
Rasional :
Mengetahui fungsi ginjal dan adany akomplikasi.
2) Dorong meningkatkan pemasukan cairan
Rasional :
Peningkatan hidrasi membilas bakteri, darah, debris, dan membantu lewatnya batu.
3) Periksa urine dan catat adanya keluaran batu
Rasional :
Penemuan batu menunjukan identifikasi tipe batu dan pilihan terapi.
4) Pertahankan patensi kateter tak menetap
Rasional :
Membantu aliran urine / mencegah retensi dan komplikasi.
5) Kolaborasi pemberian obat Asetozolamide, Amonium Klorida, Asam Ashorbat
Rasional :
Meningkatkan pH urine untuk menurunkan batu asam, menurunkan pembentukan batu fosfat dan mencegan berulangnya batu alkalin.
c. Gangguan thermoregulasi berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan :
Suhu kembali dalam keadaan normal
Kriteria evaluasi :
1) Suhu tubuh 30oc-37oc
2) Mukosa tidak kering
Intervensi keperaawatan
1) Observasi tanda-tanda vital
Rasional :
Mengetahui perubahan suhu tubuh.
2) Jauhkan dari baju tebal / selimut tebal
Rasional :
Dapat meningkatkan suhu tubuh.
3) Anjurkan minum sesuai kebutuhan
Rasional :
Memenuhi cairan tubuh.
d. Cemas berhubungan dengan kurangnyapengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
Tujuan :
Ansietas berkurang
Kriteria evaluasi :
Mengungkapkan pemahaman tengtang kondisi, prognosis dan pengobatan, ekspresi wajah rileks.
Intervensi keperawatan :
1) Beri kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan harapannya
Rasional :
Kemampuan pemecahan masalah pasien ditingkatkan bila lingkungan nyaman dan mendukung untuk diberikan.
2) Beri informasi tentang sifat penyakit, tujuan tindakan dan pemeriksaan diagnostic
Rasional :
Membantu mengurangi ansietas.
e. Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit sehubungan dengan mual dan muntah dan diueresis pasca obstruksi
Tujuan :
Mempertahankan keseimbangan cairan adekuat
Kriteria evaluasi :
1) TTV stabil, BB normal, nadi perifer normal
2) Membrane mukosa lembab
3) Turgor kulit membaik
Intervensi keperawatan :
1) Observasi intake dan output cairan dan elektrolit
Rasional :
Membandingkan keluaran actual dan diantisipasi membantu evaluasi adanya kerusakan ginjal.
2) Catat adanya muntah dan diare
Rasional :
Muntah dan diare berhubungan dengan kolik ginjal karena syaraf ganglion seliaka pada kedua ginjal dan lambung.
3) Tingkatkan pemasukan cairan 3-4 liter/hari
Rasional :
Mempertahankan keseimbangan cairan yang dapat membantu batu keluar.
4) Timbang berat badan setiap hari
Rasional :
Peningkatan berat badan yang cepat mungkin berhubungan dengan retensi.
5) Kolaborasi pemberian cairan parenteral dan obat antiemetic
Rasional :
Mempertahankan volume cairan dan menirunkan mual dan muntah.
6) Kaji TTV, turgor kulit dan membrane mukosa
Rasional :
Indicator hidrasi / volume cairan.
f. Infeksi berhubungan dengan pembentukan batu pada traktus urinarius
Tujuan :
Infeksi tidak berlanjut
Kriteria evaluasi :
Tanda-tanda infeksi berkurang
Intervensi keperawatan :
1) Intervensi tanda-tanda infeksi
Rasional :
Mengetahui perkembangan pasien.
2) Catat karakteristik urine
Rasional :
Urine keruh dah bau menujnjukan adanya infeksi.
3) Gunakan teknik aseptic bila merawat
Rasional :
Membatasi introduksi bakteri kedalam tubu.
4) Tingkatkan cuci tangan pada pasien dan staf yang terlibat
Rasional :
Menurunkan resiko infeksi silang.









BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Urolitiasis adalah adanya batu ginjal pada salurankemih yang bersifat idioapatik dapat menimbulkan statis dan infeksi.
Batu ginjal yang berbentuk di ginjal dapat menetap pada beberapa tempat di bagian ginjal, seperti di kalix minor atas dan bawah, di kalix mayor, di daerah pyelum dan di atas (up junction).
B. Saran
Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan, diantaranya :
1. Dalam melakukan asuhan keperawatan, mahasiswa mengetahui atau menertitengtang rencana keperawatan pada pasien dengan Urolitiasis.
2. Untuk perawat diharapkan mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan keluarga sehingga keluarga diharapkan mampu membantu dan memotivasi klien dalam proses penyembuhan.










DAFTAR PUSTAKA

Doenges E. Marilynn, Moorhouse Frances Mary, Geister C Alice. 1990. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien Edisi 3. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2. Jakarta : EGC.

Kumar, Robbiins. 1995. Patologi Edisi 4. Jakarta : EGC.

Askep Depkes. 1996. Urogenital. Depkes. Jakarta.

1 komentar:

Obat Herbal Infeksi Ginjal mengatakan...

terimakasih banyak infonya, sangat menarik sekali dan bermanfaat

Posting Komentar