MASA NIFAS
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat alat kandungan kembali seperti ke keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, 2006).
Tujuan Khusus
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik
b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, deteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusul pemberian nutrisi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
d. Memberikan pelayanan keluarga berencana
Periode Nifas
a. Immediate PuerperiumKeadaan yang terjadi segera setelah persalinan sampai 24 jam sesudah persalinan (0-24 jam sesudah melahirkan)
b. Early Puerperium
Keadaan yang terjadi pada permulaan puerperium. Waktu 1 hari sesudah melahirkan sampai 7 hari (1 minggu pertama).
c. Late Puerperium
1 minggu sesudah melahirkan sampai 6 minggu
Perubahan Pada Ibu Setelah Melahirkan
a. Involusi Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
Tinggi Fundus Uterus dan Berat Uterus Menurut Masa Involusi
Involusi Tinggi Fundus Berat
Uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
1 hari 2 jari bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simfisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba diatas simfisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram
Sumber : (Sarwono P, 2001)
b. Pengeluaran Lochea
Lochea adalah cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
2) Lochia rubra (Cruenta) : berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekonium, selama 2 hari pasca persalinan
3) Lochia sanguinolenta : berwarna merah kuning, cairan berisi darah dan lendir, hari ke 3-7 pasca persalinan.
4) Lochia Serosa : berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
5) Lochia Alba : Cairan putih, setelah 2 minggu.
6) Lochia Purulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk. (Mochtar R, 1998).
Laktasi/Pengeluaran Air Susu Ibu
Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang selalu ada dalam keadaan sedih, tertekan, kurang percaya diri dan berbagai bentik ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan memungkinkan tidak terjadi produksi ASI.
Ada 2 refleks yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa ibu, yaitu :
a. Refleks Prolaktin
Pada waktu bayi menghisap payudara ibu, maka ibu menerima rangsangan nero hormonial pada putting dan aerola, rangsangan ini melalui nervus vagus diteruskan ke hypophysa lalu ke lobus interior, lobus anterior akan mengeluarkan hormone prolaktin dan masuk melalui peredaran darah sampai pada kelenjar-kelenjar, pembuat ASI terangsang untuk memproduksi ASI.
b. Refleks Let Down
Refleks ini mengakibatkan memancar ASI keluar, isapan bayi akan merangsang putting susu dan aerola yang dikirim lobus posterior melalui nervus vagus dari grandula pituitary posterior dikeluarkan hormone oksitosin kedalam peredaran darah yang menyebabkan adanya kontraksi otot-otot myoepitel dari saluran susu, karena adanya kontraksi ini maka ASI akan terperas kea rah ampulla.
Tanda – Tanda Bahaya Pada Ibu Post Partum
Sebagian besar kematian ibu terjadi selama masa post partum oleh karena itu sangatlah penting untuk membimbing para ibu dan keluarganya mengenai tanda-tanda bahaya yang menandakan bahwa ia perlu segera mencari bantuan medis, ibu juga perlu mengetahui kemana ia mencari bantuan tersebut.
Beritahulah ibu jika mengetahui adanya masalah-masalah berikut, maka ia perlu segera menemui bidan.
a. Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut dua kali dalam setegah jam.
b. Pengeluaran vagina yang baunya menusuk
c. Rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung
d. Sakit kepala yang terus-menerus, nyeri ulu hati atau masalah penglihatan.
e. Pembengkakan di wajah atau di tangan
f. Demam, muntah, rasa sakit pada waktu buang air kecil atau jika merasa tidak enak badan.
g. Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan atau terasa sakit.
h. Kehilangan napsu makan dalam waktu yang lama.
i. Rasa sakit, merah, lunak dan atau pembengkakan di kaki
j. Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya atau diri sendiri. Merasa sangat letih atau nafas terengah – engah.
Kebijakan Program Nasional Masa Nifas-Program dan Kebijakan Teknis.
Paling sedikit 4 kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah masalah yang terjadi.
Kunjungan Masa Nifas
Kunjungan Waktu Uraian
1 6-8 jam setelah persalinan Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
Mendeteksi dan merawat penyebab lain pada perdarahan, rujuk bila perdarahan
Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
Pemberian ASI awal
Melakukan hubungan antara ibu dan BBL
Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia
2 6 hari setelah persalinan Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, perawatan tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari
3 2 minggu setelah persalinan Sama seperti kunjungan ke 2 (6 hari setelah persalinan)
4 6 minggu setelah persalinan Menanyakan ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami
Memberikan konseling untuk KB secara dini
Sumber : (Saifudin A B, 2001)
Tindakan Yang Baik Selama Asuhan Masa Nifas Normal pada ibu
a. Kebersihan Diri
Anjuran Kebersihan seluruh tubuh
Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya 2 hari sekali
Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya
Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka
b. Istirahat
Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan
Sarankan untuk kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat pada saat bayi tidur
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :
- Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
- Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
- Menyebabkan defresi dan kitidakmapuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri
c. Latihan
1) Diskusikan pentingnya otot – otot perut dan pinggul kembali normal, ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada pinggul.
2) Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti :
- Dengan tidur terlentang dengan lengan disamping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas kedalam dan angkat dagu ke dada: tahan 1 hitungan sampai 5. Rileks dan ulangi sebanyak 10 kali
- Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dasar panggul (Latihan kegel)
3) Berdiri dan tungkai dirapatkan, kencangkan otot-otot pantat dan pinggul dan tahan sampai 5 hitungan, kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
d. Gizi
Ibu menyusui harus :
- Menkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari
- Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup
- Minum sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui)
- Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin
- Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI-nya
e. Menyusui
ASI mengandung semua bahan yang diperlukan bayi, mudah dicena, memberi perlindungan terhadap infeksi, selalu segar, bersih, dan siap diminum.
1) Tanda ASI Cukup
- Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 24 jam dan warnanya jernih sampai kuning muda
- Bayi sering buang air besar berwarna kekuningan “berbiji”
- Bayi tampak puas, sewaktu – waktu merasa lapar, bangun dan tidur cukup. Bayi yang selalu tidur bukan pertanda baik
- Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui
- Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran Asi setiap kali bayi mulai menyusui
- Bayi bertambah berat badannya
2) ASI Tidak Cukup
Bayi harus diberi ASI setiap kali ia merasa lapar (setidaknya menyusu 10 sampi 12 kali dalam 24 jam) dalam seminggu 2 minggu pasca persalinan. Jika bayi dibiarkan tidur lebih 3-4 jam atau bayi diberi jenis makanan lain atau payudara tidak dikosongkan dengan baik tiap kali menyusui, maka pesan hormonal otak ibu adalah untuk menghasilkan susu lebih sedikit.
3) Meningkatkan Produksi ASI
Untuk Bayi
- Menyusui bayi setiap 2 jam siang dan malam hari dengan menyusui 10-15 menit setiap payudara
- Bangunkan bayi, lepaskan baju yang menyebabkan rasa gerah dan duduklah selama menyusui
- Pastikan bayi menyusui dengan posisi menempel baik dan dengarkan suara menelan aktif
- Susui bayi ditempat yang tenang dan nyaman, serta minumlah setiap kali menyusui
- Tidurlah bersebelahan dengan bayi
Untuk Ibu
- Ibu harus meningkatkan istirahat dan minum
- Petugas kesehatan harus mengamati ibu yang menyusui bayinya dan mengoreksi setiap kali terdapat masalah pada posisi penempelan antara mulut bayi dan putting
- Yakinkan bahwa ia dapat memproduksi susu lebih banyak dengan melakukan hal – hal tersebut diatas
4) Perawatan Payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama putting susu
Mengunakan BH yang menyokong payudara
Apabila putting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dimulai dari putting yang tidak lecet
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminum dengan menggunakan sendok
Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat minum parasetamol 1 tablet setiap 4-6 jam
Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan :
- Pengompresan payudara dengan mrnggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit
- Urut payudara dari arah pangkal menuju putting
- Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga putting susu menjadi lunak
- Susukan bayi setiap 2-3 jam, apabila tidak dapat dihisap seluruh ASI sisanya dikeluarkan dengan tangan
- Letakan kain dingin pada payudara setelah menyusui
f. Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali
Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (Ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki (amenore laktasi). Oleh karena itu metode amenore laktasi (gambar 1) dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk mencegah iritasi kehamilan baru. Resiko cara ini ialah 2 % kehamilan
Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, penggunaan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu sudah haid lagi.
Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu :
a. Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektivitasnya
b. Kelebihan/keuntungan
c. Efek samping
d. Bagaimana menggunakan metode itu
e. Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita pasca salin yang menyusui
Jika seorang ibu/pasangan telah memilih metode KB tertentu, ada baiknya untuk bertemu dengannnya lagi dalam 2 minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu/pasangan itu untuk mengetahui apakah metode tersebut bekerja dengan baik.
(Sarwono P, 2003).
DAFTAR PUSTAKA
UNPAD, 1993, Obstetric Fisiologi, Bagian Obstetric Ginekologi FK UNPAD, Bandung
Marry Hamilton, 1995, Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas, Edisi Keenam, Jakarta, EGC
Depkes,JHPIEGO,Buku Acuan Nasional Kesehatan Maternal dan Neonatal,Depkes RI, 2004, Jakarta
Bobak Jensen,Zalar,Keperawatan Maternitas,Edisi 4, EGC, 2005, Jakarta

0 komentar:
Posting Komentar