Jumat, 18 Maret 2011

askep difteri dan campak

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, nasofaring (bagian antara hidung dan faring/ tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui kontak hubungan dekat, melalui udara,bersin, dan batuk dari si penderita. Penderita difteri umumnya anak-anak, usia di bawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian. Difteri merupakan penyebab umum dari kematian bayi dan anak - anak muda.
Pemberian vaksin campak menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit campak. Imunisasi campak diberikan dosis pada umur 9 bulan atau lebih.Vaksin disuntikan sebanyak 0,5 ml. Kemasannya yang Biofarma berupa flakon 10 dosis dan pelarut akuabides 5 ml.vaksin harus selalu di simpan dalam pendingin serta harus dipakai dalam waktu 8 jam,vaksin harus disimapan dalam suhu2-8 oC( masa kadaluarsa 2 tahun), efek samping berupa demam, diare, konjungtivitis, dan ruam kulit
Campak ditandai oleh 3 stadium
1. Stadium inkubasi sekitar 10-12 hari jika sedikit ada tanda-tanda dan gejala-gejala
2. Stadium prodromal dengan enatem (bercak koplik) pada mukosa bukal dan faring, demam ringan sampai sedang, konjungtivitis ringan, koryza dan batuk yang semakin berat.
3. Stadium akhir dengan ruam makuler yang muncul berturut-turut pada leher dan muka, tubuh, lengan dan kaki dan disertai dengan demam tinggi.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Agar Mahasiswa/I dapat menguasai materi ini untuk meenambah pengetahuan.
b. Tujuan Khusus
Agar Mahasiswa/I dapat mengerti mengenai difteri dan campak
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Difteri
Difteri adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh corynebacterium diphteriae yang berasal dari membrane mukosa hidung dan nasofaring, kulit dan lesi lain dari orang yang terinfeksi

B. Fatofisiologi Difteri
• Kuman berkembang biak pada saluran nafas atas(vulva, kulit, mata jarang terjadi).
• Kuman membentuk psudo membrane melepaskan eksotoksin.
• Eksotoksin bila mengenai otot jantung akan mengakibatkan terjadinya miokarditis dan timbul paralysis otot-otot pernafasan bila mengenai jaringan saraf.
• Sumbatan jalan nafas terjadi akibat dari fungsi pseudo membrane pada laring dan trachea dapat menyebabkan kondisi fatal.

C. Etiologi Difteri
Penyebabnya adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Biasanya bakteri berkembangbiak pada atau di sekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan.Beberapa jenis bakteri ini menghasilkan toksin yang sangat kuat, yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak

E. Penatalaksanaan Terapeutik Difteri
 Pemberian oksigen.
 Terapi cairan.
 Perawatan isolasi.
 Pemberian antibiotic sesuai program.

F. Manifestasi Klinis
 Khas adanya pseudo membrane.
 Lihat dari alur atau jaras patofisiologi.


F. Pencegahan Penyakit Difteri
• Imunisasi
• Isolasi: pasin difteria harus dirawat dengan isolasi dan baru dapat pulang setelah pemeriksaan sediaan langsung tidak ditemukan corynebacterium diphtheriae 2kali berturut-turut.
• Pencarian seorang karier difteria dengan dilakukan uji shick. Bila diambil hapusan tenggorok dan ditemukan C.diphteriae pasien diobati, bila perlu dilakukan tonsilektomi (ini ideal,sekarang belum dapat dilaksanakan).

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian keperawatan.
• Kaji tanda dan gejala umum: apabila terdapat demam tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, nyeri kepala dan anoreksia sehingga pasien tampak sangat lemah.
• Kaji tanda dan gejala lokal: nyeri menelan, bengkak pada leher.
• Kaji gejala akibat eksotoksin misalnya mengenai otot jantung terjadi miokarditis dan bila mengenai saraf terjadi kelumpuhan.
• Kaji bila terdapat komplikasi.
• Pemeriksaan diagnostik: pada pemeriksaan darah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan leukositosis polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit, dan kadar albumin, pada urin terdapat albuminuria ringan.

2. Diagnosa keperawatan
• Resiko terjadinya komplikasi obstruksi jalan nafas, miokarditis.
• Gangguan masukan nutrisi.
• Gangguan rasa aman dan nyaman
• Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit difteri.
• Gangguan hipertermi

3. Intervensi keperawatan.
• Pantau dan cegah adanya komplikasi.
• Dorong dan dukung asupan dan status nutrisi yang sesuai.
• Pantau adanya nyeri
• Berikan dorongan emosional pada anak dan keluarga

4. Evaluasi
• Anak tidak menunjukan tanda dan gejala adanya komplikasi / infeksi
• Fungsi pernafasan anak membaik
• Tingkat aktifitas anak sesuai dengan usianya

BAB III

1. Pengertian Campak
Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus.
Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada.
Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah: - bayi berumur lebih dari 1 tahun - bayi yang tidak mendapatkan imunisasi - remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.
Campak ditandai oleh 3 stadium
1. Stadium inkubasi sekitar 10-12 hari jika sedikit ada tanda-tanda dan gejala-gejala
2. Stadium prodromal dengan enatem (bercak koplik) pada mukosa bukal dan faring, demam ringan sampai sedang, konjungtivitis ringan, koryza dan batuk yang semakin berat.
3. Stadium akhir dengan ruam makuler yang muncul berturut-turut pada leher dan muka, tubuh, lengan dan kaki dan disertai dengan demam tinggi.

2. Etiologi campak
Virus RNA dari family paramixoviridae, genus morbillivirus. Hanya satu tipe antigen yang diketahui. Selama waktu prodromal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama sekurang- kurangnya 34 jam dalam suhu kamar. Virus campak dapat di isolasi dalam biakan embrio manusia atau jaringan ginjal kera rhesus. Perubahan sitopatik, tampak dalam 5-10 hari, terdiri dari sel raksasa multinukleus dengan inklusi intranuklear. Antibodi dalam sirkulasi dapat dideteksi bila ruam muncul.
Campak, rubeola, atau measles Adalah penyakit infeksi yang sangat mudah menular atau infeksius sejak awal masa prodromal, yaitu kurang lebih 4 hari pertama sejak munculnya ruam. Campak disebabkan oleh paramiksovirus ( virus campak). Penularan terjadi melalui percikan ludah dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita campak (air borne disease ). Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul. Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah: - bayi berumur lebih dari 1 tahun - bayi yang tidak mendapatkan imunisasi - remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.

3. Gejala Campak
Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu berupa: - Panas badan - nyeri tenggorokan - hidung meler ( Coryza ) - batuk ( Cough ) - Bercak Koplik - nyeri otot - mata merah ( conjuctivitis )2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala diatas. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping.
Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan tungkai, sedangkan ruam di wajah mulai memudar. Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang. Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari.


4. Komplikasi Campak
Pada anak yang sehat dan gizinya cukup, campak jarang berakibat serius. Beberapa komplikasi yang bisa menyertai campak:
1. Infeksi bakteri : Pneumonia dan Infeksi telinga tengah
2. Kadang terjadi trombositopenia (penurunan jumlah trombosit), sehingga pendeita mudah memar dan mudah mengalami perdarahan
3. Ensefalitis (inteksi otak) terjadi pada 1 dari 1,000-2.000 kasus.
5. Pengobatan
Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas. Jika hanya mengandung campak, vaksin dibeirkan pada umur 9 bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. Selain itu penderita juga harus disarankan untuk istirahat minimal 10 hari dan makan makanan yang bergizi agar kekebalan tubuh meningkat. Waktu terdedah sampai kena penyakit: Kira-kira 10 sampai 12 hari sehingga gejala pertama, dan 14 hari sehingga ruam muncul. Imunisasi (MMR) pada usia 12 bulan dan 4 tahun. Orang yang dekat dan tidak mempunyai kekebalan seharusnya tidak menghadiri sekolah atau bekerja selama 14 hari.




ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian keperawatan
• Kaji bila terdapat ruam yang bermunculan.
• Kaji bila suhu tubuh naik mendadak.
• Kaji bila terjadi komplikasi seperti pnemonia.
• Kaji tanda-tanda konjungtivitis ringan koryza, dan batuk yang semakin berat.

2. Diagnosa keperawatan.
• Ganguan rasa aman dan nyaman.
• Gangguan integritas kulit.
• Gangguan masukan nutrisi
• Resiko terjadinya komplikasi obstruksi jalan nafas, pnemonia
• Gangguan hipetermi

3. Intervensi keperawatan
• Dorong dan dukung asupan status nutrisi yang sesuai.
• Berikan perawatan kulit untuk memelihara keutuhan dan kelenturan kulit
• Pantau dan cegah adanya komplikasi
• Berikan dukungan emosional pada anak dan keluarga.

4. Evaluasi
• Anak tidak menunjukan tanda dan gejala adanya komplikasi / infeksi
• Fungsi pernafasan anak membaik
• Tingkat aktifitas anak sesuai dengan usianya








BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpualn
Difteri adalah suatu penyakit infeksi toksik akut yang sangat menular, disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae dengan ditandai pembentukan pseudomembran pada kulit dan/atau mukosa.
Penyebabnya adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri
Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus.
Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada,Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah

B. Saran
Penulis menyarankan agar pembaca lebih mengetahui tentang materi ini dan dapat memahaminya serta dapat mengamalkannya.




DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, Lynda Juall (2001). Buku Saku : Diagnosa Keperawatan edisi : 8 penterjemah Monica Ester. EGC. Jakarta
Doengoes E Marlynn, dkk (1999) Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3 penterjemah Monica Ester. EGC. Jakarta
http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=ePDT&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-vwmu278.htm
http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?id=&iddtl=930&idktg=19&idobat=&UID=2007051414570061.5.100.19

0 komentar:

Posting Komentar