BAB I
PENDAHULUAN
A. Latarbelakang
Manusia adalah mahluk sosial. Untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan harus membina hubungan interpersonal yang positif. Hubungan interpersonal yang sehat terjadi jika individu yang terlibat saling merasakan kedekatan antara sementara identitas pribadi tetap di pertahankan. Jika sebaliknya maka patut dicurigai adanya gangguan kepribadian dan biasanya terjadi pada masa remaja dan dewasa.
Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat langsung seperti pada masalah kesehatan fisik, yang memperlihatkan gejala yang berbeda, dan muncul oleh berbagai penyebab. Kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian saat ini, tetapi muncul gejala yang berbeda. Banyak klien dengan masalah kesehatan jiwa tidak dapat menceritakan hal yang berbeda sama halnya dengan masalah kejiwaan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu gangguan kepribadian atau isolasi sosial atau menarik didri. Dalam gangguan ini hubungan saling percaya antara perawat dengan klien merupakan dasar utama dalam melakukan proses keperawatan dan penyembuhan dengan klien gangguan jiwa. Hal ini penting karena dengan hubungan saling percaya dapat membantu klien dalam menyelesaikan masalahnya.
Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998).
Oleh karena itu,masalah dengan gangguan jiwa seperti ini yang paling dibutuhkan adalah saling percaya dan ada beberapa latar belakang bagaimana bisa terjadinya gangguan jiwa seperti ini yang akan dibahas dalam makalah ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN ISOLASI SOSIAL atau MENARIK DIRI
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Menjelaskan pada mahasiwa apa itu gangguan isolasi sosial atau menarik diri.
2. Tujuan Khusus
- Menjelaskan pengertian isolasi sosial
- Menjelaskan faktor predisposisi terjadinya gangguan isolasi sosial
- Menjelaskan tanda dan gejala ganguan isolasi sosial
- Asuhan keperawatan pada pasien gangguan isolasi sosial
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito, 1998).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998)
Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam.
Kerusakan Interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam suatu kualitas yang tidak cukup atau berlebihan atau kualitas interaksi sosial yang tidak efektif
Krusakan Interaksi Sosial memiliki karakteristik,yaitu :
Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidaknyamanan dalam situasi-situasi sosial. Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidakmampuan untuk menerima atau mengkomunikasikan kepuasan rasa memiliki, perhatian, minat, atau membagi cerita. Tampak menggunakan perilaku interaksi sosial yang tidak berhasil. Disfungsi interaksi dengan rekan sebaya, keluarga atau orang lain. Penggunaan proyeksi yang berlebihan tidak menerima tanggung jawab atas perilakunya sendiri. Manipulasi verbal. Ketidakmampuan menunda kepuasan (Mary C. Townsend, Diagnosa Keperawatan Psikiatri, 1998; hal 226).
B. FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI
1. Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan meresa tertekan.
2. Faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan.
C. TANDA DAN GEJALA
Data Subjektif :
Sukar didapati jika klien menolak berkomunikasi. Beberapa data subjektif adalah menjawab pertanyaan dengan singkat, seperti kata-kata “tidak “, “iya”, “tidak tahu”.
Data Objektif :
Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan :
• Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.
• Menghindari orang lain (menyendiri), klien nampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan.
• Komunikasi kurang / tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain / perawat.
• Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk.
• Berdiam diri di kamar / tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya.
• Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
• Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.
• Posisi janin pada saat tidur.
KARAKTERISTIK PERILAKU
• Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan.
• Berat badan menurun atau meningkat secara drastis.
• Kemunduran secara fisik.
• Tidur berlebihan.
• Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama.
• Banyak tidur siang.
• Kurang bergairah.
• Tidak memperdulikan lingkungan.
• Kegiatan menurun.
• Immobilisasai.
• Mondar-mandir (sikap mematung, melakukan gerakan berulang).
• Keinginan seksual menurun.
D. MASALAH UTAMA KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL
1. Interaksi sosial, kerusakan
2. Perubahan sensori-perseptual
3. Kekerasan, resiko tinggi
4. Harga diri rendah kronis
5. Intoleransi aktivitas
6. Sindrom defisit perawatan diri
7. Koping keluarga,inefektif
8. Ketegangan peran pemberi perawatan
ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
A. Pengkajian
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi, penilaian stressor, suberkoping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi pengkajian meliputi :
1. Identitas Klien
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tangggal
MRS, informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien.
2. Keluhan Utama
Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada, berdiam diri dikamar, menolak interaksi dengan orang lain, tidak melakukan kegiatan sehari – hari , dependen
3. Faktor predisposisi
kehilangan, perpisahan, penolakan orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi, kecelakaan dicerai suami, putus sekolah, PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi (korban perkosaan, tituduh kkn, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.
4. Aspek fisik / biologis
Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien.
5. Aspek Psikososial
1. Genogram yang menggambarkan tiga generasi
2. Konsep diri
a) Citra tubuh :
Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi.
Menolak penjelasan perubahan tubuh, persepsi negatip tentang tubuh.
Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang, mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan.
b) Identitas diri
Ketidak pastian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan .
c) Peran
Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit, proses menua, putus sekolah, PHK.
d) Ideal diri
Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi.
e) Harga diri
Perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, mencederai diri, dan kurang percaya diri.
3. Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga sosial dengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam masyarakat. Seperti :
a. Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk ibadah (spritual)
b. Status Mental
Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata, kurang dapat memulai pembicaraan, klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan orang lain, Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup.
4. Kebutuhan persiapan pulang.
a. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan
b. Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC membersikan dan merapikan pakaian.
c. Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi
d. Klien dapat melakukan istirahat dan tidur, dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah
e. Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar.
5. Mekanisme Koping
Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri)
6. Aspek Medik
Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT, Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respons baik aktual maupun potensial (Stuart and Sundeen, 1995)
1. Resiko tinggi melakukan kekerasan yang berhubungan dengan halusinasi pendangaran
2. perubahan sensori perseptual : menarik diri yang berhubungan dengan menarik diri
3. kerusakan interaksi sosial : halusinasi pendengaran yang berhubungan dengan menarik diri.
4. Sindrom defisit perawatan diri yang berhubungan dengan intolerin aktivitas
5. Ketegangan peran pemberi perawatan yang berhubungan dengan ketidakmampuan
6. keluarga merawat pasien di rumah
7. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
8. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak efektifnya koping individu : koping defensif.
Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah sebagai berikut :
1. Isolasi sosial : menarik diri
2. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
3. Resiko perubahan sensori persepsi
4. Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain
5. Gangguan komunikasi verbal, kurang komunikasi verbal.
6. Intoleransi aktifitas.
7. Kekerasan resiko tinggi.
C. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa : Resiko tinggi melakukan kerusakan yang berhubungan dengan koping defensif
Data Subjektif :
klien mengatakan tiidak puas bila tidak memecahkan barang. Kalau sedng kesal, ingin membanting pintu dan sering memukul dirinya.
Klien sudah tiga kali dirawat dengan alasan yang sama,yaitu amuk.
Tujuan Umum :
Klien tidak melakukan kekerasan
Tujuan khusus :
klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Tindakan keperawatan :
- Bina hubungan saling percaya :
- sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal : ucapan salam, perkenalkan diri, jelaskan tujuan pertemuan, terima klien apa adanya, ciptakan suasana tenang dan santai, hargai privasi klien, pertahankan kontak mata dengan
Data Subjektif :
- klien mengatakan tiidak puas bila tidak memecahkan barang. Kalau sedng kesal, ingin membanting pintu dan sering memukul dirinya.
- Klien sudah tiga kali dirawat dengan alasan yang sama,yaitu amuk..
Tujuan umum :
Tidak terjadi perubahan sensori persepsi.
Tujuan khusus : klien dapat
1. Membina hubungan saling percaya.
2. Menyebutkan penyebab menarik diri.
3. Menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain.
4. Melakukan hubungan sosial secara bertahap, klien – perawat, klien – kelompok, klien – keluarga.
1. Mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain.
1. Memberdayakan sistem pendukung.
2. Menggunakan obat dengan tepat dan benar.
Tindakan keperawatan :
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip hubungan terapeutik :
Sapa klien dengan ramah, baik verbal maupun non verbal.
Perkenalkan diri dengan sopan,
Jelaskan tujuan pertemuan
Jujur dan menepati janji
Selalu kontak mata selama interaksi
Tujukan sikap empati dan penuh perhatian pada klien
Terima kien apa adanya
Perhattikan kebutuhan dasarnya klien
2. Klien dapat mengenal perasaan yang menyebabkan prilaku menarik diri dari lingkungan sosial
Kaji penngetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda- tandanya
Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab klien tudak mau bergaul atau menarik diri
Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda- tanda serta penyebabyang mungkin.
Beri pujian terhadap kemampuan klien untuk mengungkapkan perasaan.
3. Klien dapat berhubungan sosial dengan orang lain secara bertahap :
Diskkusikan tentang keunntungan dari berhubungan dan kerugian dari perilaku menarik diri.
Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalu tahap berikut :
- Klien- perawat
- Klien- perawat- perawat lain
- Klien- perawat- perawat lain- klien lain
- Klien- kelompok kecil
- Klien- keluarga/ kelompok/ masyarakat
Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai klien
Bantu klien mengevaluasi manfaat dari berhubungan
Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan klien dalam mengisi waktunya
Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan di ruangan
Beri pujian atas keikutsertaan klien dalam kegiatan di ruangan.
4. Klien dengan dukungan keluarga mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain .
Bina hubungan saling percayadengan keluarga
o Perkenalkan diri
o Sampaikan tujuan membuat kontrak
Diskusikan dengan anggota keluarga tentang
o Prilaku menarik diri
o Penyebab prilaku menarik diri
o Akibat yang akan terjadi jika perilaku menarik diri idak ditangani
Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain
Anjurkan anggota keluarga untuk secara rutin bergantian mengujungi klien
minimal 1x seminggu.
Beri reinforcement positif atas hal- hal yang telah dicapai oleh kelurga.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito, 1998 ). Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan meresa tertekan, berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan. Dengan tanda dan gejalanya seperti Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul, menghindari orang lain (menyendiri), klien nampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan, komunikasi kurang / tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain / perawat, tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk, berdiam diri di kamar / tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya, menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap, tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.
Jadi membina hubungan saling percaya klien dengankeluarga, perawat dengan klien dapat mempercepat menyelesaikan masalahnya dan mengajarkan untuk berinteraksi dengan orang lain dan beri klien kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya yang nmenyebabkan klien menarik diri.
B. SARAN
• Binalah hubungan saling percaya diantara orang tua dengan mahasiswa/i, kelompok/ masyarak dengan mahasiswa/i
• Mahasiswa/i harus mengetahui tanda- tanda dari menarik diri dan jika ada suatu masalah sebaiknya dibicarakan dan mencari jalan penyelesaiannya.
• Saling mendukung terhadap apa yang akan dilakukan selagi positif
Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998).
Oleh karena itu,masalah dengan gangguan jiwa seperti ini yang paling dibutuhkan adalah saling percaya dan ada beberapa latar belakang bagaimana bisa terjadinya gangguan jiwa seperti ini yang akan dibahas dalam makalah ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN ISOLASI SOSIAL atau MENARIK DIRI
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Menjelaskan pada mahasiwa apa itu gangguan isolasi sosial atau menarik diri.
2. Tujuan Khusus
- Menjelaskan pengertian isolasi sosial
- Menjelaskan faktor predisposisi terjadinya gangguan isolasi sosial
- Menjelaskan tanda dan gejala ganguan isolasi sosial
- Asuhan keperawatan pada pasien gangguan isolasi sosial
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito, 1998).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998)
Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam.
Kerusakan Interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam suatu kualitas yang tidak cukup atau berlebihan atau kualitas interaksi sosial yang tidak efektif
Krusakan Interaksi Sosial memiliki karakteristik,yaitu :
Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidaknyamanan dalam situasi-situasi sosial. Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidakmampuan untuk menerima atau mengkomunikasikan kepuasan rasa memiliki, perhatian, minat, atau membagi cerita. Tampak menggunakan perilaku interaksi sosial yang tidak berhasil. Disfungsi interaksi dengan rekan sebaya, keluarga atau orang lain. Penggunaan proyeksi yang berlebihan tidak menerima tanggung jawab atas perilakunya sendiri. Manipulasi verbal. Ketidakmampuan menunda kepuasan (Mary C. Townsend, Diagnosa Keperawatan Psikiatri, 1998; hal 226).
B. FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI
1. Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan meresa tertekan.
2. Faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan.
C. TANDA DAN GEJALA
Data Subjektif :
Sukar didapati jika klien menolak berkomunikasi. Beberapa data subjektif adalah menjawab pertanyaan dengan singkat, seperti kata-kata “tidak “, “iya”, “tidak tahu”.
Data Objektif :
Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan :
• Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.
• Menghindari orang lain (menyendiri), klien nampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan.
• Komunikasi kurang / tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain / perawat.
• Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk.
• Berdiam diri di kamar / tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya.
• Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
• Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.
• Posisi janin pada saat tidur.
KARAKTERISTIK PERILAKU
• Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan.
• Berat badan menurun atau meningkat secara drastis.
• Kemunduran secara fisik.
• Tidur berlebihan.
• Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama.
• Banyak tidur siang.
• Kurang bergairah.
• Tidak memperdulikan lingkungan.
• Kegiatan menurun.
• Immobilisasai.
• Mondar-mandir (sikap mematung, melakukan gerakan berulang).
• Keinginan seksual menurun.
D. MASALAH UTAMA KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL
1. Interaksi sosial, kerusakan
2. Perubahan sensori-perseptual
3. Kekerasan, resiko tinggi
4. Harga diri rendah kronis
5. Intoleransi aktivitas
6. Sindrom defisit perawatan diri
7. Koping keluarga,inefektif
8. Ketegangan peran pemberi perawatan
ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
A. Pengkajian
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi, penilaian stressor, suberkoping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi pengkajian meliputi :
1. Identitas Klien
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tangggal
MRS, informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien.
2. Keluhan Utama
Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada, berdiam diri dikamar, menolak interaksi dengan orang lain, tidak melakukan kegiatan sehari – hari , dependen
3. Faktor predisposisi
kehilangan, perpisahan, penolakan orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi, kecelakaan dicerai suami, putus sekolah, PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi (korban perkosaan, tituduh kkn, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.
4. Aspek fisik / biologis
Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien.
5. Aspek Psikososial
1. Genogram yang menggambarkan tiga generasi
2. Konsep diri
a) Citra tubuh :
Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi.
Menolak penjelasan perubahan tubuh, persepsi negatip tentang tubuh.
Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang, mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan.
b) Identitas diri
Ketidak pastian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan .
c) Peran
Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit, proses menua, putus sekolah, PHK.
d) Ideal diri
Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi.
e) Harga diri
Perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, mencederai diri, dan kurang percaya diri.
3. Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga sosial dengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam masyarakat. Seperti :
a. Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk ibadah (spritual)
b. Status Mental
Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata, kurang dapat memulai pembicaraan, klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan orang lain, Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup.
4. Kebutuhan persiapan pulang.
a. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan
b. Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC membersikan dan merapikan pakaian.
c. Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi
d. Klien dapat melakukan istirahat dan tidur, dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah
e. Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar.
5. Mekanisme Koping
Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri)
6. Aspek Medik
Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT, Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respons baik aktual maupun potensial (Stuart and Sundeen, 1995)
1. Resiko tinggi melakukan kekerasan yang berhubungan dengan halusinasi pendangaran
2. perubahan sensori perseptual : menarik diri yang berhubungan dengan menarik diri
3. kerusakan interaksi sosial : halusinasi pendengaran yang berhubungan dengan menarik diri.
4. Sindrom defisit perawatan diri yang berhubungan dengan intolerin aktivitas
5. Ketegangan peran pemberi perawatan yang berhubungan dengan ketidakmampuan
6. keluarga merawat pasien di rumah
7. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
8. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak efektifnya koping individu : koping defensif.
Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah sebagai berikut :
1. Isolasi sosial : menarik diri
2. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
3. Resiko perubahan sensori persepsi
4. Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain
5. Gangguan komunikasi verbal, kurang komunikasi verbal.
6. Intoleransi aktifitas.
7. Kekerasan resiko tinggi.
C. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa : Resiko tinggi melakukan kerusakan yang berhubungan dengan koping defensif
Data Subjektif :
klien mengatakan tiidak puas bila tidak memecahkan barang. Kalau sedng kesal, ingin membanting pintu dan sering memukul dirinya.
Klien sudah tiga kali dirawat dengan alasan yang sama,yaitu amuk.
Tujuan Umum :
Klien tidak melakukan kekerasan
Tujuan khusus :
klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Tindakan keperawatan :
- Bina hubungan saling percaya :
- sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal : ucapan salam, perkenalkan diri, jelaskan tujuan pertemuan, terima klien apa adanya, ciptakan suasana tenang dan santai, hargai privasi klien, pertahankan kontak mata dengan
Data Subjektif :
- klien mengatakan tiidak puas bila tidak memecahkan barang. Kalau sedng kesal, ingin membanting pintu dan sering memukul dirinya.
- Klien sudah tiga kali dirawat dengan alasan yang sama,yaitu amuk..
Tujuan umum :
Tidak terjadi perubahan sensori persepsi.
Tujuan khusus : klien dapat
1. Membina hubungan saling percaya.
2. Menyebutkan penyebab menarik diri.
3. Menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain.
4. Melakukan hubungan sosial secara bertahap, klien – perawat, klien – kelompok, klien – keluarga.
1. Mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain.
1. Memberdayakan sistem pendukung.
2. Menggunakan obat dengan tepat dan benar.
Tindakan keperawatan :
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip hubungan terapeutik :
Sapa klien dengan ramah, baik verbal maupun non verbal.
Perkenalkan diri dengan sopan,
Jelaskan tujuan pertemuan
Jujur dan menepati janji
Selalu kontak mata selama interaksi
Tujukan sikap empati dan penuh perhatian pada klien
Terima kien apa adanya
Perhattikan kebutuhan dasarnya klien
2. Klien dapat mengenal perasaan yang menyebabkan prilaku menarik diri dari lingkungan sosial
Kaji penngetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda- tandanya
Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab klien tudak mau bergaul atau menarik diri
Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda- tanda serta penyebabyang mungkin.
Beri pujian terhadap kemampuan klien untuk mengungkapkan perasaan.
3. Klien dapat berhubungan sosial dengan orang lain secara bertahap :
Diskkusikan tentang keunntungan dari berhubungan dan kerugian dari perilaku menarik diri.
Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalu tahap berikut :
- Klien- perawat
- Klien- perawat- perawat lain
- Klien- perawat- perawat lain- klien lain
- Klien- kelompok kecil
- Klien- keluarga/ kelompok/ masyarakat
Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai klien
Bantu klien mengevaluasi manfaat dari berhubungan
Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan klien dalam mengisi waktunya
Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan di ruangan
Beri pujian atas keikutsertaan klien dalam kegiatan di ruangan.
4. Klien dengan dukungan keluarga mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain .
Bina hubungan saling percayadengan keluarga
o Perkenalkan diri
o Sampaikan tujuan membuat kontrak
Diskusikan dengan anggota keluarga tentang
o Prilaku menarik diri
o Penyebab prilaku menarik diri
o Akibat yang akan terjadi jika perilaku menarik diri idak ditangani
Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain
Anjurkan anggota keluarga untuk secara rutin bergantian mengujungi klien
minimal 1x seminggu.
Beri reinforcement positif atas hal- hal yang telah dicapai oleh kelurga.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito, 1998 ). Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan meresa tertekan, berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan. Dengan tanda dan gejalanya seperti Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul, menghindari orang lain (menyendiri), klien nampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan, komunikasi kurang / tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain / perawat, tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk, berdiam diri di kamar / tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya, menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap, tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.
Jadi membina hubungan saling percaya klien dengankeluarga, perawat dengan klien dapat mempercepat menyelesaikan masalahnya dan mengajarkan untuk berinteraksi dengan orang lain dan beri klien kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya yang nmenyebabkan klien menarik diri.
B. SARAN
• Binalah hubungan saling percaya diantara orang tua dengan mahasiswa/i, kelompok/ masyarak dengan mahasiswa/i
• Mahasiswa/i harus mengetahui tanda- tanda dari menarik diri dan jika ada suatu masalah sebaiknya dibicarakan dan mencari jalan penyelesaiannya.
• Saling mendukung terhadap apa yang akan dilakukan selagi positif

0 komentar:
Posting Komentar